Sebuah kisah nyata dari "Beauty and the Beast" di tahun 1500-an yang menjadi inspirasi Gabrielle-Suzanne de Villeneuve untuk menulis "La Belle et la Bete" di tahun 1740. Ceritanya berawal saat seorang pria bernama Petrus Gonsalvus asal Tenerife, Spanyol yang lahir pada 1537. Karena penyakit langka, tubuhnya dilapisi kulit tebal dan bulu bagaikan jelmaan serigala.
Penyakit itu kini dikenal sebagai "werewolf syndrome" atau hypertrichosis. Di abad pertengahan, penyakit itu hanya dialami oleh 50 orang sedunia dan Petrus adalah orang pertama. Tak heran jika ia mengalami diskriminasi luar biasa. Saat berusia 10 tahun, Petrus bahkan dijadikan hadiah untuk pengangkatan Henry II dari Perancis.
Sang Raja yang sempat ngeri saat melihat Petrus pun akhirnya luluh karena tingkahnya yang sopan. Ia akhirnya dirawat dan didik sebagai bangsawan. Karena kecerdasannya ia mampu menguasai tiga bahasa. Sayangnya, Raja Henry II tewas dan meninggalkan Ratu Catherine yang akhirnya menikah dengan Petrus pada 1573
Meski ketakutan, namun pada akhirnya Catherine bersedia menikahi Petrus. Catherine menilai bahwa suaminya itu adalah seorang yang pemberani. Keduanya bahkan hidup dengan bahagia dan memiliki 7 orang anak. Kisah Petrus dan Catherine ini pun dikenang sebagai kisah cinta yang tak memandang fisik karena kecantikan yang sesungguhnya berada dalam hati.