Passive x-over gampang ga ya ?
Scuto Laminating Simota CRC Indonesia

25 Mei 2016 - Payment System Terbaru Untuk Bursa Jual Beli telah kami hadirkan.
Untuk informasi lebih lengkap dapat dilihat di http://modifika.si/630917

Page 1 of 5 12345 LastLast
Results 1 to 10 of 44
  • Thread Tools
  • Short URL:  http://modifika.si/60734
  • Share on facebook
  • Share on twitter
  1. #1
    Kopral Satu
    Location
    Jakarta Selatan
    Posts
    53
    Power
    M-Store Point
    0
    Online
    8 Hrs 7 Mins 13 Secs

    Passive x-over gampang ga ya ?

    C L O S E D

  2. Delapan Satu
  3. #2
    Letnan Jendral
    Location
    PangkaL Paha
    Posts
    21,927
    Power
    143 
    M-Store Point
    0
    Online
    2 Wks 4 Days 22 Hrs 15 Mins 42 Secs
    tambah pengetahuan saya bos..
    trims yaaa

  4. #3
    Mayor
    Location
    Bandung, West Java . Indonesia
    Posts
    4,651
    Power
    20 
    M-Store Point
    0
    Online
    1 Wk 5 Days 15 Hrs 59 Mins 22 Secs
    bikin pasif sih gampang2 susah, pertama karena pasif itu campuran antara art, tehnik dan decision management.
    art = kadangkala di butuhkan komponen merk tertentu untuk menghasilkan suara tertentu
    tehnik = pastilah.......
    decision management = ya karena pasif yang betul mungkin tidak hanya satu macam tetapi bisa banyak macam rangkaian dan topology rangkaiannya. bisa suatu pasif sudah flat amplitudonya tetapi tidak flat phasenya.

    cara bikin pasif yang saya sudah jalanin : ada 4 cara
    1. cara yang paling gampang pake kalkulator dan rumus2 yang banyak di dapat di buku2.
    misalnya : impedansi 4 ohm mau di cut di 4000 hz high pass
    rumusnya 159155/4/4000 = .......C dalam uf.
    2. pake kuping : ini rada ribet karena mensti ngetes pake nilai komponen tertentu dan jenis rangkaian tertentu, kemungkinannya banyak sekali
    3. dengan bantuan komputer : dengan tahu ts parameter suatu loudspeker di masukkan data ke software tertentu ( Xover Pro biasanya) di simulasi dan di dapatkan hasil rangkaiannya
    4. ini yang paling ribet dengan komputer dan simulasi aslinya:
    pertama di ukur di posisi pendengar masing2 driver (pengukuran amplitudonya) terus di ukur impedansi jalannya ( impedansi speaker dari 10-40khz), di ukur phasenya ( biasanya pake minimum phase saja atau hilbert bode transform), di ukur jarak masing2 speaker ke mic yang berada di posisi penumpang (dengan menggunakan sinyal mls), buat xover pasif dummy biasanya 12 db peroktaf dan di ukur lagi amplitudonya
    ( ini di gunakan untuk mengetahui jarak real masing-masing driver)
    setelah semua data itu di dapat dimasukkan ke software simulasi ( Leap, AudioCad or Soundeasy).
    nah masalahnya program simulasi ini juga gak pinter2 amat harus di steer untuk mendapatkan hasil yang masuk di akal.

    Just Sharing......
    CST audio consultant
    Design , Research and Development
    0818203553 , 082119603553 , pin : 24E107F7 , 74E88859

  5. #4
    Letnan Satu
    Location
    nyoo_hks@yahoo.co.id
    Posts
    1,809
    Power
    73 
    M-Store Point
    0
    Online
    N/A
    tambah pengetahuan nih..

  6. #5
    Mayor
    Location
    Bandung, West Java . Indonesia
    Posts
    4,651
    Power
    20 
    M-Store Point
    0
    Online
    1 Wk 5 Days 15 Hrs 59 Mins 22 Secs

    Talking

    Quote Originally Posted by HKSsound View Post
    tambah pengetahuan nih..
    Master kok tambah pengetahuan sih ????
    CST audio consultant
    Design , Research and Development
    0818203553 , 082119603553 , pin : 24E107F7 , 74E88859

  7. #6
    Jendral
    Location
    Mega Glodok Kemayoran Lt.6 B2/9-10 jakarta pusat
    Posts
    35,046
    Power
    84 
    M-Store Point
    0
    Online
    6 Days 11 Hrs 46 Mins 48 Secs
    Quote Originally Posted by musiclover View Post
    Pengalaman saya mengenai passive x-over mungkin beda sama beberapa teman2 disini. Untuk beberapa orang x-over dianggap mudah karena hanya pembagi frequency saja. Menurut saya tidak semudah itu membuat passive x-over yg baik dan benar. Oleh karena itu jenis2nyapun ada cukup banyak berdasarkan Q nya seperti Butterworth, linkwitzralley, bessel dll seingat saya ada 7 jenis keseluruhannya. Selain itu tingkat pemotongan juga berdasarkan slopenya masing2 ada slope 6 db / octave diseburt first order 12 db / octave yg disebut second order dst. Jika ada yg terbaik diantara semuanya maka tidak akan ada beberapa teory mengenai ini. Dan masing2 jenis membutuhkan syarat2 tertentu yg harus dipenuhi. Salah satunya begini, kalau kita memilih order ganjil ( first, third dll ) maka jika syarat yg lain sudah terpenuhi, sambungan akan lurus jika dipertemukan pada - 3 db ( minus 3 db ). Dan utk order genap pada -6 db. Tapi perlu diperhatikan juga masing2 jenis cutting setelah kita memasukkan rumusnya berlainan satu dgn yg lain, sebagai contoh : linkwitz cuting freqnya ada pada -6 db sedangkan butterworth pada -3 db. jadi jika kita memilih order genap maka setelah memasukan rumus x-over linkwitz bertemu pada titik potongnya, sedangkan butterworth membutuhkan gap. Dan perlu diketahui oleh karena itu linkwitz juga tidak mempunyai order ganjil. Dengan demikian berdasarkan tulisan diatas jelas perbedaan antara x-over point dengan cutting point. Perlu diingat bahwa rumus2 x-over berdasarkan jenisnya harus dengan syarat freq response rata dan impedanse rata yang mana in the real world hampir tidak mungkin bahkan driver full range sekalipun tidak memenuhi syarat ini. Kesulitan lainnya adalah setiap 1 order akan menggeser phase sebesar 45 derajat pada masing2 driver. Maka walaupun kita menggunakan jenis yg plg simpel skalipun yaitu 1st order phasenya akan bergeser 90 derajat hanya dengan penggabungan midrange dan tweeter. Disinilah peran seorang x-over designer untuk menyatukan multi driver ( two way atau lebih ) menjadi satu kesatuan dengan kompensasi tertentu sesuai keahlian masing2.

    Sebelum menentukan titik potong ( Cutting frequency ) setahu saya, kita harus terlebih dahulu mengetahui natural roll off dari masing2 driver yg akan kita gabungkan. Yang seperti kita ketahui tidak ada 1 driverpun, yg bukan jenis full range, yg mempunyai response lurus tanpa turun ( roll off ). Contohnya sebuah tweeter driver responnya akan turun antara 1500 - 2500 kearah freq bawah kebalikan dgn mid range driver yg akan turun kearah freq atas. Dan masing2 roll off bervariasi antara 6 db/ oktaf sampai lebih. Yang kita tuju disini adalah slope secara akustik bukan secara elektroniknya. Kalau kita akan membuat slope sebesar 24db/oktaf dan natural roll off drivernya sebesar 12db/oktaf maka kita cukup membuat slope tambahan secara elektronik sebesar 12db/oktaf. Mengenai jenis Q yg dipilih berdasarkan bentuk respon dr frekwensi itu semua sekali lagi tergantung tingkat keahlian dari pembuat x-over itu sendiri. Dan utk minimal titik terendah aman rule of thumb nya gini : cutting poin terendah sebesar 2X dari Fo ( resonance frequency ) utk 3rd order ato lebih dan 3X Fo utk 1st order dan 2nd order.

    Perlu diketahui 1 oktaf itu adalah not do sampe ketemu do lagi. jadi sangat signifikan. Demikian sekilas mengenai passive x-over yang saya ketahui dan pastinya banyak yg belum saya ketahui.
    Quote Originally Posted by handy View Post
    bikin pasif sih gampang2 susah, pertama karena pasif itu campuran antara art, tehnik dan decision management.
    art = kadangkala di butuhkan komponen merk tertentu untuk menghasilkan suara tertentu
    tehnik = pastilah.......
    decision management = ya karena pasif yang betul mungkin tidak hanya satu macam tetapi bisa banyak macam rangkaian dan topology rangkaiannya. bisa suatu pasif sudah flat amplitudonya tetapi tidak flat phasenya.

    cara bikin pasif yang saya sudah jalanin : ada 4 cara
    1. cara yang paling gampang pake kalkulator dan rumus2 yang banyak di dapat di buku2.
    misalnya : impedansi 4 ohm mau di cut di 4000 hz high pass
    rumusnya 159155/4/4000 = .......C dalam uf.
    2. pake kuping : ini rada ribet karena mensti ngetes pake nilai komponen tertentu dan jenis rangkaian tertentu, kemungkinannya banyak sekali
    3. dengan bantuan komputer : dengan tahu ts parameter suatu loudspeker di masukkan data ke software tertentu ( Xover Pro biasanya) di simulasi dan di dapatkan hasil rangkaiannya
    4. ini yang paling ribet dengan komputer dan simulasi aslinya:
    pertama di ukur di posisi pendengar masing2 driver (pengukuran amplitudonya) terus di ukur impedansi jalannya ( impedansi speaker dari 10-40khz), di ukur phasenya ( biasanya pake minimum phase saja atau hilbert bode transform), di ukur jarak masing2 speaker ke mic yang berada di posisi penumpang (dengan menggunakan sinyal mls), buat xover pasif dummy biasanya 12 db peroktaf dan di ukur lagi amplitudonya
    ( ini di gunakan untuk mengetahui jarak real masing-masing driver)
    setelah semua data itu di dapat dimasukkan ke software simulasi ( Leap, AudioCad or Soundeasy).
    nah masalahnya program simulasi ini juga gak pinter2 amat harus di steer untuk mendapatkan hasil yang masuk di akal.

    Just Sharing......
    MANTAPZ...

    makasih buat master2 dan suhu2 buat masuk kan ilmu nya....
    Mega Glodok Kemayoran Lt 6 Blok B2 No.9-10
    Kemayoran / Jakarta Pusat
    Tlp.021 99691521

  8. #7
    Kopral Satu
    Location
    Jakarta Selatan
    Posts
    53
    Power
    M-Store Point
    0
    Online
    8 Hrs 7 Mins 13 Secs
    Kalau bikin passive x-over dpt dibuat dgn leap dsb, maka x-over designer didunia tidak hanya cuma sedikit sekali jumlahnya. Sepanjang pengetahuan saya tidak ada 1 softwarepun yg cukup pintar utk membuat yg baik dan benar ( saya sudah mencobanya ). Dan perlu diketahui pengukuran thiele small parameter kecil hubungannya utk pembuatan passive x-over, yg kita butuhkan adalah pengukuran impedansi dari driver yg akan kita buat untuk dapat menghitung induktor maupun kapasitor yang akan kita pergunakan. Thiele small parameter lebih bertujuan utk menghitung box yg usesuai utk sebuah driver. Pengukuran impedansi dpt menggunakan impedance meter portable seperti yg banyak beredar di Indonesia LMS maupun Clio. Atau yg handheld juga sudah cukup memadai seperti yg pernah dibuat oleh Rokford.

    Masing2 order pada x-over juga mempunyai sifat arah penyebaran suara. Contohnya 1st order akan mengarah tegak lurus dengan tarikan garis pada voice coil masing" driver yg akan disatukan. Jadi jika kita menempatkan driver sebidang dgn masing" rangkanya maka arah suara akan mengarah pada lantai. Oleh karane itu jika sebuah speaker murni memakai first order secara akustik biasanya boxnya akan dibuat miring keatas atau penempatan tweeter lebih mundur kebelakang. Karena itu pula sistim penempatan driver secara d'appolito sejauh ini hanya sukses dengan x-over high order.

    Jadi seperti pernah saya sebutkan terdahulu masing2 order menuntut syarat2 yang harus dipenuhi. termasuk time delay adalah salah satu diantaranya. Ingat pergeseran phase yg telah saya sebutkan sebelumnya. Belum lagi pemilihan Q pada slope yg akan kita pergunakan. Jika sebuah sistem audio sudah benar maka kita tidak hanya dapat membedakan jenis instrument yang dimainkan bahkan kita dapat mengetahui merek dr instrument tsb. Biasanya instrument yg kita perhatikan adalah jenis akustik yg standard dalam arti kata hampir dimana - mana bersuara sama, contohnya piano dan beberapa alat musik tiup. Kalau guitar listrik suaranya berlainan satu dengan yg lainnya disesuaikan dgn pemilihan part dari gutar itu sendiri berdasarkan selera pemainnya ( contohnya pemilihan senar ). Kalau kita menyetel x-over dgn memperhatikan suara vocal penyanyi sebaiknya perhatikan pitchnya karena tidak ada penyanyi profesional yg pitchnya lari.

    Masih sangat banyak hal2 lain mengenai x-over yg belum kita bahas karena cukup rumitnya masalah ini. Sering kita jumpai banyak loudspeaker dgn harga yg jauh lebih rendah tapi lebih well respected didunia ini. Yg mana jarang terjadi pada perangkat lain ( head unit, amplifier dsb ). Bahkan dalam satu merek terkadang jenis yg lebih murah malah lebih di respect dr pada jenis yg lebih mahal. Sebagai pengingatan bahwa driver2 terbaik didunia terutama tweeter tidak mudah untuk disatukan. Karena keakuratannya membuat tiap kesalahan dalam pembuatan x-over lebih mudah terdengar, driver2 ini sangat sensitive sekali sesuai dgn harganya kali yaaaah.

  9. #8
    Letnan Kolonel
    Posts
    5,190
    Power
    33 
    M-Store Point
    0
    Online
    2 Hrs 3 Mins 12 Secs
    Quote Originally Posted by musiclover View Post
    Kalau bikin passive x-over dpt dibuat dgn leap dsb, maka x-over designer didunia tidak hanya cuma sedikit sekali jumlahnya. Sepanjang pengetahuan saya tidak ada 1 softwarepun yg cukup pintar utk membuat yg baik dan benar ( saya sudah mencobanya ). Dan perlu diketahui pengukuran thiele small parameter kecil hubungannya utk pembuatan passive x-over, yg kita butuhkan adalah pengukuran impedansi dari driver yg akan kita buat untuk dapat menghitung induktor maupun kapasitor yang akan kita pergunakan. Thiele small parameter lebih bertujuan utk menghitung box yg usesuai utk sebuah driver. Pengukuran impedansi dpt menggunakan impedance meter portable seperti yg banyak beredar di Indonesia LMS maupun Clio. Atau yg handheld juga sudah cukup memadai seperti yg pernah dibuat oleh Rokford.

    Masing2 order pada x-over juga mempunyai sifat arah penyebaran suara. Contohnya 1st order akan mengarah tegak lurus dengan tarikan garis pada voice coil masing" driver yg akan disatukan. Jadi jika kita menempatkan driver sebidang dgn masing" rangkanya maka arah suara akan mengarah pada lantai. Oleh karane itu jika sebuah speaker murni memakai first order secara akustik biasanya boxnya akan dibuat miring keatas atau penempatan tweeter lebih mundur kebelakang. Karena itu pula sistim penempatan driver secara d'appolito sejauh ini hanya sukses dengan x-over high order.

    Jadi seperti pernah saya sebutkan terdahulu masing2 order menuntut syarat2 yang harus dipenuhi. termasuk time delay adalah salah satu diantaranya. Ingat pergeseran phase yg telah saya sebutkan sebelumnya. Belum lagi pemilihan Q pada slope yg akan kita pergunakan. Jika sebuah sistem audio sudah benar maka kita tidak hanya dapat membedakan jenis instrument yang dimainkan bahkan kita dapat mengetahui merek dr instrument tsb. Biasanya instrument yg kita perhatikan adalah jenis akustik yg standard dalam arti kata hampir dimana - mana bersuara sama, contohnya piano dan beberapa alat musik tiup. Kalau guitar listrik suaranya berlainan satu dengan yg lainnya disesuaikan dgn pemilihan part dari gutar itu sendiri berdasarkan selera pemainnya ( contohnya pemilihan senar ). Kalau kita menyetel x-over dgn memperhatikan suara vocal penyanyi sebaiknya perhatikan pitchnya karena tidak ada penyanyi profesional yg pitchnya lari.

    Masih sangat banyak hal2 lain mengenai x-over yg belum kita bahas karena cukup rumitnya masalah ini. Sering kita jumpai banyak loudspeaker dgn harga yg jauh lebih rendah tapi lebih well respected didunia ini. Yg mana jarang terjadi pada perangkat lain ( head unit, amplifier dsb ). Bahkan dalam satu merek terkadang jenis yg lebih murah malah lebih di respect dr pada jenis yg lebih mahal. Sebagai pengingatan bahwa driver2 terbaik didunia terutama tweeter tidak mudah untuk disatukan. Karena keakuratannya membuat tiap kesalahan dalam pembuatan x-over lebih mudah terdengar, driver2 ini sangat sensitive sekali sesuai dgn harganya kali yaaaah.
    mantap, boss ... in fact, emang gak gampang ya bikin pasif crossover? gak cukup cuman dengan tes denger dan trial & error komponen-komponen aja khan? mutlak, harus, kudu, wajib pake alat bantu ... kecuali kalo kuping kita dah sakti mandraguna melebihi ketelitian RTA & LEAP ... hahaha ...

    GRP dah buat boss ...
    = AD MAJOREM DEI GLORIAM =

  10. #9
    Sersan Dua
    Posts
    246
    Power
    M-Store Point
    0
    Online
    N/A
    Hallo, ikutan nimbrung ya....

    Nice dicussion.

    1. Sambungan di -3db atau -6db ditentukan oleh type dan slope nya, bukan oleh orde genap atau ganjil.
    Misalnya Butherworth orde 3 maupun 4 sama2 nyambung di -3db.
    Linkwitz-Riley nyambung di -6db karena pada dasarnya topologi ini adalah gabungan dari 2 Butherworth. LR12=2xBTW6, LR24=2xBTW12, dsb. Makanya ga ada LR orde ganjil.

    2. Setiap orde xover menggeser fasa sebanyak 90deg, diluar frequency range nya. Fasa frekuensi cutoff tergeser setengahnya.

    3. Setuju sekali dengan musiclover tentang gabungan dari natural roll off dan electrical response.
    Ini yang biasa disebut acoustical response.

    4. Yup, 1 octave = nada do ke do berikutnya.
    Lebih gampangnya : dari satu frekuensi ke kelipatan dua nya.
    Misalnya dari 100hz-200hz, 150hz-300hz, 200hz-400hz, 234hz-468hz, 9khz-18khz, dst.

    5. Software2 simulasi hanyalah alat bantu. Yang penting adalah pemahaman fenomenanya.
    Seperti halnya kalkulator. Kalkulator tidak membuat sesorang menjadi ahli mathematika. Tapi ahli mathematika akan sangat terbantu dengan adanya kalkulator.

    6. TS parameter memang bukan untuk simulasi frequency response secara umum, tapi dengan parameter ini kita bisa memprediksi secara pasti response dari satu box.
    Masuk akal juga kalo dia dipakai untuk prediksi natural roll off (paling tidak hipass dan sinyal kecil)
    Setahu saya ada software namanya AKABAK yang bisa memprediksi frequency response secara akurat dengan memasukkan antara lain TS parameter.

    7. Good point musiclover tentang acoustic center.
    Juga tentang dispersi.
    Standard pengukuran on-axis frequency response sedikit demi sedikit akan tergeser oleh standard pengukuran yang lebih modern (sekarang sedang jadi hot topic), yang lebih memperhatikan off-axis response, namanya power response.

    Just my 0.02

    Salam.

  11. #10
    Kopral Satu
    Location
    Jakarta Selatan
    Posts
    53
    Power
    M-Store Point
    0
    Online
    8 Hrs 7 Mins 13 Secs
    linkwitz adalah butterworth yg dicascade yg mana Q dari butterworth adalak .707 sedangkan linkwitz 0,5 jadi linkwitz adalah dari hasil , 0,707 pangkat 2 itu dasar pemikirannya. Dimana2 dari dulu sampe sekarang x-over point utk mempertemukan order ganjil adalah -3 dan genap -6. itu tetap berlaku. Seperti yg telah saya sebutkan pertama perbedaan antar cutting freq dgn x-over point. Kadang kita memakai Q 0.7 utk mendapatkan hasil akustik Q 0,5. Dan semua ini semua atas dasar 1st order butterworth , sedangakan yg lainnya hanya pengembangan dari butterworth saja. Dan yg terpenting adalah hasil akhir yaitu suara yg dihasilkan teori hanya penunjang saja. Stelah x-over terbentuk tetap saja final tweaking adalah dgn kuping dari seorang yg ahli.

 

 
Page 1 of 5 12345 LastLast
Vkool Venom 300x250

Thread Information

Users Browsing this Thread

There are currently 1 users browsing this thread. (0 members and 1 guests)

Similar Threads

  1. [WTA] lug nut ane kok gampang kendor kenapa ya ??? :(
    By bobon in forum Diskusi Kaki-Kaki
    Replies: 9
    Last Post: 7th May 2011, 07:34
  2. body gampang jamuran?
    By dordor in forum Diskusi Eksterior
    Replies: 5
    Last Post: 28th September 2010, 20:37
  3. Cara Gampang Jadi Bos
    By Flic.Valentino in forum Automotive
    Replies: 2
    Last Post: 24th September 2008, 11:33
Back to top