JAKARTA - Petinju profesional, Tubagus Setia Sakti, 17 tahun, meninggal dunia setelah mendapat perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Universitas Kristen Indonesia (UKI), Jakarta, Minggu pagi, 27 Januari 2013. Ia dilarikan ke rumah sakit lantaran pingsan dan kejang-kejang seusai bertanding dan kalah TKO ronde kedelapan dalam perebutan gelar juara nasional Ring Tinju TVRI, sehari sebelumnya.
"Tim dokter di rumah sakit sudah melakukan usaha maksimal," kata koordinator pengamanan ring tinju TVRI, Lojor, saat ditemui di rumah sakit kemarin bersama promotor Syarifudin Lado.
"Berdasarkan keterangan dokter, penyebab meninggalnya Tubagus adalah pendarahan otak," ujarnya. Menurut Lojor tidak ada operasi yang dilakukan. Tubagus sempat mendapatkan tindakan pacu jantung sebelum meninggal.
Pihak promotor, kata Lojor, sudah melakukan yang terbaik. Semua biaya perawatan serta pemulangan jenazah ke Lampung akan ditanggung promotor. "Keluarga sudah datang dan sudah menerima dengan ikhlas karena ini adalah risiko olahraga keras," kata dia.
Tubagus bertanding Sabtu malam lalu di studio TVRI, untuk memperebutkan gelar juara yang lowong di kelas terbang yunior 49 kilogram versi Komisi Tinju Profesional Indonesia (KTPI). Tubagus, yang menempati peringkat satu, direncanakan bertanding dalam 12 ronde melawan petinju senior, Ical Tobida, yang bertengger di peringkat kedua.
Namun, pada ronde kedelapan, pertandingan dihentikan wasit dan Tubagus dinyatakan kalah TKO (technical knock out). Tubagus kemudian pingsan setelah pertandingan dihentikan. Seorang saksi mata, Diar Candra, 27 tahun, mengatakan Tubagus kejang-kejang saat ditandu ke luar studio.
Pelatih Tubagus, Misyanto, mengatakan persiapan Tubagus sudah baik dan tidak ada masalah. Menurut mantan petinju yang dijuluki Little Home ini, yang perlu dibenahi dalam pertandingan adalah kejelian wasit untuk melihat kondisi petinju di ring, khususnya dalam menentukan kapan pertandingan harus dihentikan.
Menurut Misyanto, di ronde kedelapan itu, Tubagus sudah oleng dan mengangkat tangannya tanda menyerah. "Tapi sepertinya wasit masih ragu menghentikan pertandingan," kata dia.
Tubagus kemudian kembali dihantam dan ia kembali mengangkat tangan tanda menyerah. Saat itulah wasit menghentikan pertandingan. Misyanto mengatakan, pendarahan terjadi di otak kiri Tubagus. "Dia (Tubagus) berkali-kali dipukul di bagian itu," ujarnya.
Sebelum berkarier di tinju pro, Tubagus dalam konferensi pers sebelum pertandingan menyatakan pernah menjadi petinju amatir selama satu tahun. Ia memiliki rekor bertanding 10 kali, menang tujuh kali, kalah tiga kali. Dari kemenangannya itu, siswa SMA Islam Kalianda, Lampung Selatan ini, membukukan kemenangan KO dua kali.
---------------------
PERTANDINGANNYA MULAI JAM 01.00 SUBU MINGGU 27 JAN 2013 tadi.
kata bokap gw(dia nnton kmaren), padahal dia udh angkat tangan, mala di biarin wasit, jdinya di pukul terus deh, wasitnya kurang pro sih, klo di amerika klo udh dipukul terus, pasti di hentikan wasit, ini malah di biarin ntar pngsan baru di stopin payah...
wah kalo bener wasit begitu parah tu. asosiasi nya yang harus diberesin plus sanksi yang jelas tetep perlu bar kejadian begini ga gampang terulang lagi
Ane dr dl kepikiran apa tinju itu termasuk bidang olahraga? Kl iya,fungsinya olahraga kan bwt kesehatan bro2 skalian.. Lhaa,ini malah babak belur.. Capede..