...ijin menyimak gan,..ternyata bukan g aja yg kesel!!!....
emang2 yah nih TVONE dari sejak berubah nama dari Lativi jadi TVONE mereka ini seperti terdorong untuk revolusi menjadi TV berita no.1 tapi sayang banget motivasi berlebihan petinggi TVONE yang ditularkan ke reporter2nya di saat interview narasumber dari dulu ga pernah tertata dengan rapih, selalu menyudutkan nara sumber (maksudnya biar suasana hot kali ya), dan dalam penyajiannya berita mengarah kepada dibuat2 dan dilebih2kan cenderung menyesatkan dan memprovokasi pemirsa nya, sangat berbeda dengan kenyataan dilapangan (pengalaman saya pernah mendampingi narasumber saat terjadi interview dengan reproter TV One), sejak itu saya sangat memperhatikan juga pemberitaan2 lain TVone, terlebih bila kita perhatikan Talkshow politiknya TV One, pertanyaan2 seputar kasus yang ada, itu presenter bukan bermaksud menjadikan Topik menarik, tapi lebih ke arah propaganda akan pendapat tertentu kepada pemirsanya, tidak obyektif dan netral tapi subyektif, terkesan provokasi masyarakat, bisa dilihat sendiri lah..
bahaya nih kalo terus begini nih TV One, bisa mengarah ke yang tidak diinginkan nih...
reporternya kok nyolot amat
nitip lapak bos :
jual dvd dewasa terlengkap dan termurah http://www.modifikasi.com/showthread...P-dan-MURAH%29
Hampir semua wartawan lebih mementingkan berita dibandingkan hal2 lain nya.
Sudah banyak contoh kasus nya, tidak hanya di dalam negeri aja.
Mereka lebih mementingkan mendapatkan berita yg heboh dan sensasional atau mendapatkan foto yg dramatis, dibandingkan dg menolong korban nya sendiri.
Selain cuma membuat berita, apa sih yg telah wartawan lakukan utk menolong korban banjir ??
Mohon maaf buat rekan2 yg ber profesi wartawan, tapi ini kenyataan nya.
Memang tidak semua wartawan spt ini, tetapi boleh dibilang sebagian besar lah.
Haha kejadian ini memang sangat kontras sama Mata Najwa versi Bang Rhoma ya. Dalam kejadian Jokowi ini malah Jokowi yang terlihat 'lebih' intelek dalam menanggapi suatu masalah, berkebalikan dengan Mata Najwa edisi "Rhoma Irama maju jadi Capres" di mana Najwa Shihab terlihat 'lebih' intelek dibanding dengan sang narasumber.
Idealnya memang wartawan dalam melakukan peliputan nggak boleh menyudutkan narasumber dengan tetap menjadi objektif lhooo....
![]()
cuma copas
----------------------------
Sekilas Review 100 Hari Jokowi Menjabat Gubernur DKI dari @Janes_CS
January 23, 2013 1 Comment
Berikut ini adalah rangkaian tweet dari reporter Metro TV yang bertugas meliput Jokowi selama masa jabatan beliau sebagai Gubernur DKI Jakarta pada 100 hari pertama sejak 15 Oktober 2012. Ia adalah Janes C. Simangunsong di @janes_cs. Selamat membaca…
Kelar shooting, Jokowi Damprat TV One: http://bit.ly/StQWlr.
Jokowi itu sudah wanti-wanti nggak mau diwawancara terkait 100 hari, itu TV bilangnya terkait banjir, ya Jokowi bersedia, tapi ternyata dijebak. Jokowi tahunya itu live tentang banjir, ternyata pertanyaan menjurus ke 100 Hari, gimana nggak kesal dia. Wawancara Metro TV tentang 100 Hari Jokowi saja dibatalkan karena dia lagi fokus banjir. Kita hargai. Tapi tiba-tiba ada yang “menyelak” dengan cara licik, ya kesal.
“Selama 23 tahun saya nggak pernah diginiin. Kalau sudah A, ya A. Jangan tiba-tiba pindah dari A ke B.” Ucap Jokowi usai live dengan TV “itu” semalam.
Apa yang Jokowi lakukan selama 100 hari ini? Gue review sedikit berdasarkan liputan gue selama ikut DKI 1. #100harijokowi
- Hal pertama yang Jokowi lakukan saat masa jabatan gubernurnya adalah meninjau lapangan untuk menentukan kebijakan. Fokus utamanya adalah pembenahan kampung-kampung. Seperti pembuatan rusun, rumah deret, dll. Sekarang masih dalam tahap lobby warga.
- Empat minggu jabatannya, ia meluncurkan Kartu Jakarta Sehat dan Kartu Jakarta Pintar untuk warga kurang mampu.
- Selanjutnya dia fokus pada Ruang Terbuka Hijau. Ia perintahkan Dinas Pertamanan untuk membuat 30% wilayah Jakarta adalah RTH.
- Lalu upaya untuk normalisasi kali (sungai). Sejumlah pengerukan kali sudah diperintahkan ke Dinas Pekerjaan Umum.
- Pengkajian ulang pembangunan MRT/Monorail/Subway. Belum deal, karena masih menunggu ketok palu DPRD untuk APBD DKI Jakarta 2013. Penambahan armada TransJakarta, tahun ini target tambah 1000, bulan ini sudah tambah 200 dengan integrasi dan revitalisasi Kopaja. Hari ini (22/01) peresmian e-ticketing untuk TransJakarta dan penambahan koridor busway secara bertahap.
- Tanggap darurat banjir. Pertama adalah perbaikan tanggul Latuharhary, Jakarta Pusat yang jadi penyebab banjir wilayah protokol Jakarta. Perbaikan tanggul sementara menurut keterangan Dinas PU seharusnya selesai dalam waktu sebulan. Jokowi “mandorin”, 4 hari selesai.
Masa tanggap darurat dimanfaatkan Jokowi untuk bisa pakai APBN sebesar 2 triliun rupiah untuk keperluan (penanggulangan) banjir, karena APBD Jakarta belum cair.
Tanggap darurat Jokowi fokus pada evakuasi dan pembagian logistik di wilayah terisolir, dan pembenahan Kanal Banjir Barat.
FYI, tanggul Latuharhary, Jakarta Pusat seharusnya menjadi tanggung jawab pusat, tapi Jokowi yang inisiatif pertama langsung perbaikan.
Tanggul Latuharhary jebol membuat Sudirman – Thamrin – Istana tergenang. Orang pertama yang datang ke sumber banjir = Jokowi.
Jadi kalau kalian pikir #100harijokowi cuma “blusukan” doang, wrong. Selesai “blusukan”, ada konsep yang tertulis untuk sebuah kebijakan tata kota. Sudah lebih dari lima kali ia mengumpulkan seluruh lurah/camat/walikota untuk koordinasi wilayah dan pengarahan.
Sebenarnya banyak hal lain, tapi sejauh ini tindakan-tindakan besar di #100harijokowi ya itu. Sekian dan terima kecupan.
Oh iya, gue punya kisah mengesankan dengan Pak Gubernur Jokowi. Hari Jumat kemarin gue follow Jokowi dari subuh hingga malam mandorin perbaikan tanggul. Jam 8 malam Jokowi negur gue, “kok kamu belum pulang?”
Lalu gue jawab, “belum boleh sama kantor, Pak,” sambil melas.
Lalu Jokowi bilang, “sini saya yang ngomong sama kantormu. Mukamu udah pucat gitu.”
Alhasil gue teleponlah korlip gue di kantor, “bang, ada yang mau ngomong,” lalu gue serahkan HP gue ke Jokowi, dan Jokowi ngomong ke kantor gue.
“Saya Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo, memerintahkan Janes untuk pulang!”
Korlip gw, “hah? Siapa nih?” Kirain becanda.
“Saya JOKOWI!”
Korlip gue kaget, “siap, Pak Gubernur!”
“Ini si Janes ganti, dong, dia udah dari subuh, kayak Metro TV kurang orang aja. Perintah gubernur ini!”
“Siap, Pak!” — Alhasil gue boleh pulang setelah long shift. Pengen peluk Pak Jokowi. :’)
Selama liput DKI 1, gue sadar, cuma orang yang benar-benar punya hati yang sanggup memimpin Jakarta. Jakarta needs love.
Apa Jokowi tidak tegas? Semua kepala dinas di DKI takut sama dia. Karena Jokowi bukan kelas “Asal Bapak Senang”. Dia lihat sendiri hasilnya. Apa Jokowi tidak pernah marah? Pernah. Dan itu menakutkan. Khususnya buat dinas di DKI yg ketahuan kerjanya nggak benar.
Gue nggak menyalahkan orang yang bilang Jokowi pencitraan, karena kebanyakan media cuma ngangkat sisi fenomenal dan bukan hasil kerja. Demi rating dan selera pasar, “blusukan” jadi prioritas pemberitaan. Padahal di balik meja kerja dia tulis semua mega proyek untuk Jakarta.
Jokowi suka gandeng pemerintah luar untuk belajar dan kerja sama. Kebanyakan PM/Presiden atau dubes luar, datang ke Jakarta untuk bertemu Jokowi. And what’s wrong dengan pencitraan? Memang citra yang “dekat dengan rakyat” yang Jokowi ciptakan. Untuk apa? Untuk mempermudah penerapan kebijakan.
Sejauh ini, pemimpin yang gue kenal ramah dan mau berbagi ilmu cuma Jokowi dan Jusuf Kalla.
Berikut cerita bagaimana wartawan follow Jokowi saat dinas “blusukan”. Awal menjabat, Jokowi dan pengawalnya menggunakan mobil dinas Innova plat hitam dan nopol biasa. Alhasil kalau di jalan orang nggak tahu itu gubernur. Kita (wartawan) harus ngikutin dia sejak dia keluar dari rumah dinas pagi-pagi. Karena banyak agenda nggak resmi seperti “blusukan”. Jadi kadang di jalan orang-orang pada bingung, kok dua mobil Innova ini diikutin banyak mobil media, padahal itu isinya gubernur. Jadi di jalan tuh kita kayak balapan tikus, tempel terus mobil Jokowi.
Sekarang mending, pengawal pakai X-trail plus lampu “biru merah” itu. Walau Jokowi kadang tetap pakai Innova. Padahal mobil dinas Land Cruiser. Selesai “blusukan” kita selalu cari muka ke Jokowi, “Pak, lapar, Pak…” berangkatlah kita dikasih makan.
Oh iya, kadang kalau acara resmi dan bertemu orang penting, Jokowi pakai mobil Land Cruisernya, kok. Keren, deh. Kayak pejabat. #Lah #emangiye
Wartawan tau dari mana agenda Jokowi? Dari…. Kasih tau nggak, yaaaaaa. #inigakpenting
Tweet-tweet gue malam ini kupersembahkan untuk #100harijokowi dan untuk merayakan 100 hari gue embedded DKI 1. :’)
Terima kasih untuk sharingnya, Kak Janes.
*Tweet dirangkum dari timeline @janes_cs mulai pukul 1:12 PM – 22 Jan 13 sampai 10:44 PM – 22 Jan 13.*
ST banget yah tu yah.. hehehe
Aaaaah ini mah emang tipikal Tipi Oon dari dulu.... Beritanya ama cara bawainnya pesenan elit politik..
Reporternya juga nanya kayan anak kecil nanya ke bapaknya
bener bener gak mutu sekarang tu TV. cuma cari kesalahan org doang.
mungkin ada yang mau nyalonin tu di TV.![]()
Boxer Budug
Satu pertanyaan dari wartawan ataupun reporter yang teramat GOBLOKnya, yaitu :
"Bagaimana perasaan anda sekarang?"
Pertanyaan itu ditujukan untuk orang yang sedang berduka atau terkena musibah...
Apa perlu pertanyaan spt itu ditanyakan??
ckckckck...![]()
sekarang sejak jokowi-ahok menjabat kelihatan jelas kok itu pihak-pihak yang sirik dimana mereka mengeluarkan pendapat atau kritik yang gak masuk akal...saya rasa..
ya seperti yang ada di tulisan TS, memang komentar yang dilontarkan cetek (keluar dari otak cetek kan) kebanyakan..
wahh..wahhh
bener kan marah,pas saya nonton acaranya emang udah ada sinyal-sinyal yang ga enak
gw nonton nih pas wawancara....kesel bgt liat tuh presenter goblok...![]()
Pnah bikin judul 'jakarta akan tenggelam'
1jam kemudian diganti 'jakarta akan tenggelam?'
makanye tina talisa kabur,,krn ud ga independen lg...
There are currently 1 users browsing this thread. (0 members and 1 guests)