Pahlawan situ gintung

25 Mei 2016 - Payment System Terbaru Untuk Bursa Jual Beli telah kami hadirkan.
Untuk informasi lebih lengkap dapat dilihat di http://modifika.si/630917

Page 1 of 4 1234 LastLast
Results 1 to 10 of 38
  • Thread Tools
  • Short URL:  http://modifika.si/102464
  • Share on facebook
  • Share on twitter
  1. #1
    Letnan Kolonel
    Location
    ~MaLaNg~
    Posts
    6,459
    Power
    42 
    M-Store Point
    0
    Online
    3 Wks 2 Days 3 Hrs 4 Mins 46 Secs

    Pahlawan situ gintung







    Tidak adanya respon yang cepat dari pemerintah dalam melakukan evakuasi pencarian korban pada hari pertama bencana Situ Gintung, membuat hati seorang yang sehari-hari membersihkan Kali Persanggrahan tergerak.

    Bang Idin, 56 tahun, dikenal sebagai sosok yang peduli dengan kebersihan Kali Pesanggrahan. Sisa hidupnya dicurahkan untuk menjaga lingkungan di sepanjang Kali Pesanggrahan.

    Hari pertama bencana, Bang Idin bersama relawan yang tergabung dalam TIM Sangga Buana langsung terjun ke lapangan untuk melakukan pencarian dan penyelamatan. "Waktu hari pertama saya menyelamatkan 20 orang dan menemukan 12 mayat di sepanjang Kali Pesanggrahan," ujarnya.

    Mulai dari pagi sampai sore saya selalu menyisir Kali Pesanggrahan sampai ke hulunya di Cipulir. "Banyak warga yang berada di atas atap rumah dan pohon yang saat itu memerlukan pertolongan," imbuhnya.

    Tapi anehnya pada saat hari pertama itu, belum ada respon yang cepat dari Tim SAR.

    Bagi bang Idin, tragedi ini amat memilukan. Tak pernah terlintas sedikitpun melihat sungai yang selalu dirawatnya menjadi tempat puluhan jiwa orang meregang nyawa.

    Hal itu juga yang membuat dirinya menjadi berubah profesi menjadi pencari mayat. "Biasanya bersihin dan mengangkut sampah, tapi sekarang malah mayat," ujarnya sambil tersenyum.

    Kegigihan dan keikhlasan Bang Idin ternyata cukup membantu Tim SAR dalam proses evakuasi korban.

    "Ya sudah sepantasnya kita langsung bergerak turun ke lapangan, bukan mendirikan posko, lalu duduk-duduk saja, kaya posko parpol-parpol itu," kata Idin.

    Sampai dengan hari kelima tragedi Situ Gintung, Bang Idin masih terus melakukan penyisiran di sepanjang Kali Pesanggrahan. "Kebetulan saya tahu betul medan kali ini, jadi bisa sedikit membantu Tim SAR," imbuhnya.

    Menurutnya, bencana ini merupakan bentuk ketidakpedulian semua pihak baik pemerintah dan warga setempat. Karena 40 meter sepadan Situ Gintung tidak boleh dijadikan tempat pemukiman.

    Tapi nyatanya daerah yang semestinya menjadi tata ruang air berubah fungsi menjadi tempat pemukiman. "Saya sudah pernah ingatkan dua bulan lalu ke pihak pemkot, tapi mereka tidak menggubrisnya," ujarnya.

    Tapi apa daya, bencana sudah terjadi. Tidak perlu saling tuding menuding untuk mencari kesalahan. Alangkah baiknya kita mencari jalan keluarnya. "Saya dan warga besok akan langsung melakukan penanaman 1.000 pohon di sekitar tanggul Situ Gintung."

    Spoiler for Profile Bang Idin: Show

    Haji Chaerudin tak lelah berjuang untuk alam. Bersama Kelompok Tani Sangga Buana, pria yang akrab disapa Bang Idin ini terus berkampanye menghijaukan bantaran kali.

    Ia wujudkan hutan wisata seluas 40 hektare di tepi Kali Pesanggrahan, Karang Tengah, Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Di sana, pria yang dalam kesehariannya selalu berpakaian Betawi lengkap dengan peci dan golok ini membebaskan pengunjung memetik hasil hutan sembari memancing ikan di kali. “Gratis asal tidak merusaknya,” ujarnya.

    Ada sekitar 4.000 ribu pengunjung baik lokal maupun mancanegara per tahun yang sengaja datang menikmati keasrian hutan “Bang Idin”. Dipandu para sukarelawan, mereka diajak menikmati ribuan pohon seperti buah-buahan, sayuran, dan tanaman obat.

    Bahkan pepohonan yang mulai langka di Jakarta semacam buni, jamblang, kirai, salam, tanjung, kecapi, kepel, rengas, mandalka, drowakan, gandaria, dan bisbul, dapat dijumpai di sana.

    Semua keindahan itu berawal dari keprihatinan Bang Idin terhadap kondisi Kali Pesanggrahan di akhir tahun 1980-an. Pria kelahiran 13 April 1956 itu merasa kehilangan indahnya sungai semasa kecil.

    Menaiki rakit dari pelepah pisang, Bang Idin nekat menyusuri kali selama lima hari enam malam. Ia rekam setiap detail kerusakan yang terjadi. Otaknya berputar mencari jawaban atas hilangnya kicauan burung, ikan-ikan di kali, dan aneka satwa di bantaran kali. Selama itu pula ia mencari tahu mengapa sungai begitu kotor dan bantaran sungai tandus.

    Hasil petualangannya membuat Bang Idin semakin terobsesi mengembalikan “kesehatan” Kali Pesanggrahan. Maka dimulailah usahanya dengan membersihkan sampah dan bangunan yang menghampar di tepian sungai.

    Hari-hari awal perjuangan Bang Idin cukup berat. Tak jarang ia bersitegang dengan para pembuang sampah sembarangan, terutama pemilik rumah gedongan yang berbatasan dengan bantaran kali.

    Tapi Bang Idin punya cara sendiri untuk menggugah kesadaran mereka. Ia kumpulkan sampah-sampah ke dalam plastik lalu digantungnya di pagar rumah-rumah beton itu. “Biar mereka paham sampah itu bau,” ujarnya mengenang peristiwa belasan tahun lalu.

    Taktiknya ternyata cukup jitu. Perlahan warga sekitar mulai peduli dengan lingkungan. Bahkan demi penghijauan, banyak pemilik rumah gedongan yang membongkar bangunannya di bantaran kali.

    Disamping menghijaukan bantaran, Bang Idin dan kelompoknya juga berhasil menghidupkan kembali tujuh mata air yang sempat mati. Air sungai tak lagi kehitaman, sehingga cukup sehat bagi berkembangbiaknya ikan-ikan.

    Langkahnya pun menuai berbagai penghargaan setingkat nasional dan mancanegara. Sebut saja Kalpataru, penghargaan penyelamatan air, piagam dari Abu Dhabi, Jerman, dan Belanda. “Gue nggak bangga. Buat apa penghargaan? Mendingan bantuan pemerintah untuk lingkungan,” ujar bapak dua anak ini.

    Di balik sikap kerasnya, pria tamatan SMP ini ingin membuktikan, hanya orang yang benar-benar memahami alam yang dapat menyelamatkannya. ”Masyarakat yang di kali seperti gue nih seharusnya dirangkul. Duta lingkungan bukan yang cakep-cakep, tapi yang beneran peduli sama lingkungan,” ujarnya.


    sumber : vivanews

  2. Eagle Eyes
  3. #2
    Letnan Kolonel
    Location
    ~MaLaNg~
    Posts
    6,459
    Power
    42 
    M-Store Point
    0
    Online
    3 Wks 2 Days 3 Hrs 4 Mins 46 Secs
    yang punya banyak cendol dibagi donkk.hehehehehe.

  4. #3
    Prajurit
    Posts
    13
    Power
    M-Store Point
    0
    Online
    N/A
    mantap...

    bentar lagi,,penerbit buku ttg pahlawan menerbitkan buku baru..

    "PAHLAWAN SITU GINTUNG edition..."

    hehehe...

    edisi terbatas Loooooo....

    kidding bang...

  5. #4
    Brigadir Jendral
    Location
    West Jakz
    Posts
    12,185
    Power
    140 
    M-Store Point
    0
    Online
    1 Day 22 Hrs 32 Mins 58 Secs
    wah salut ama nih org...

  6. #5
    Kapten
    Location
    Jakarta Timur
    Posts
    2,341
    Power
    M-Store Point
    0
    Online
    1 Mth 4 Days 22 Hrs 42 Mins 32 Secs
    mantap nih, punya kepedulian sosial yg tinggi...

  7. #6
    Jendral
    Location
    Bandung
    Posts
    47,828
    Power
    153 
    M-Store Point
    0
    Online
    3 Wks 3 Days 15 Hrs 58 Mins 14 Secs
    salut2.......

    gayanya jg udh kaya pendekar.... hehhehee......

  8. #7
    Letnan Satu
    Location
    29,92 hpa
    Posts
    1,808
    Power
    18 
    M-Store Point
    0
    Online
    4 Wks 15 Hrs 23 Mins 38 Secs
    Quote Originally Posted by aguspurnomoo View Post






    Tidak adanya respon yang cepat dari pemerintah dalam melakukan evakuasi pencarian korban pada hari pertama bencana Situ Gintung, membuat hati seorang yang sehari-hari membersihkan Kali Persanggrahan tergerak.

    Bang Idin, 56 tahun, dikenal sebagai sosok yang peduli dengan kebersihan Kali Pesanggrahan. Sisa hidupnya dicurahkan untuk menjaga lingkungan di sepanjang Kali Pesanggrahan.

    Hari pertama bencana, Bang Idin bersama relawan yang tergabung dalam TIM Sangga Buana langsung terjun ke lapangan untuk melakukan pencarian dan penyelamatan. "Waktu hari pertama saya menyelamatkan 20 orang dan menemukan 12 mayat di sepanjang Kali Pesanggrahan," ujarnya.

    Mulai dari pagi sampai sore saya selalu menyisir Kali Pesanggrahan sampai ke hulunya di Cipulir. "Banyak warga yang berada di atas atap rumah dan pohon yang saat itu memerlukan pertolongan," imbuhnya.

    Tapi anehnya pada saat hari pertama itu, belum ada respon yang cepat dari Tim SAR.

    Bagi bang Idin, tragedi ini amat memilukan. Tak pernah terlintas sedikitpun melihat sungai yang selalu dirawatnya menjadi tempat puluhan jiwa orang meregang nyawa.

    Hal itu juga yang membuat dirinya menjadi berubah profesi menjadi pencari mayat. "Biasanya bersihin dan mengangkut sampah, tapi sekarang malah mayat," ujarnya sambil tersenyum.

    Kegigihan dan keikhlasan Bang Idin ternyata cukup membantu Tim SAR dalam proses evakuasi korban.

    "Ya sudah sepantasnya kita langsung bergerak turun ke lapangan, bukan mendirikan posko, lalu duduk-duduk saja, kaya posko parpol-parpol itu," kata Idin.

    Sampai dengan hari kelima tragedi Situ Gintung, Bang Idin masih terus melakukan penyisiran di sepanjang Kali Pesanggrahan. "Kebetulan saya tahu betul medan kali ini, jadi bisa sedikit membantu Tim SAR," imbuhnya.

    Menurutnya, bencana ini merupakan bentuk ketidakpedulian semua pihak baik pemerintah dan warga setempat. Karena 40 meter sepadan Situ Gintung tidak boleh dijadikan tempat pemukiman.

    Tapi nyatanya daerah yang semestinya menjadi tata ruang air berubah fungsi menjadi tempat pemukiman. "Saya sudah pernah ingatkan dua bulan lalu ke pihak pemkot, tapi mereka tidak menggubrisnya," ujarnya.

    Tapi apa daya, bencana sudah terjadi. Tidak perlu saling tuding menuding untuk mencari kesalahan. Alangkah baiknya kita mencari jalan keluarnya. "Saya dan warga besok akan langsung melakukan penanaman 1.000 pohon di sekitar tanggul Situ Gintung."

    Spoiler for Profile Bang Idin: Show

    Haji Chaerudin tak lelah berjuang untuk alam. Bersama Kelompok Tani Sangga Buana, pria yang akrab disapa Bang Idin ini terus berkampanye menghijaukan bantaran kali.

    Ia wujudkan hutan wisata seluas 40 hektare di tepi Kali Pesanggrahan, Karang Tengah, Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Di sana, pria yang dalam kesehariannya selalu berpakaian Betawi lengkap dengan peci dan golok ini membebaskan pengunjung memetik hasil hutan sembari memancing ikan di kali. “Gratis asal tidak merusaknya,” ujarnya.

    Ada sekitar 4.000 ribu pengunjung baik lokal maupun mancanegara per tahun yang sengaja datang menikmati keasrian hutan “Bang Idin”. Dipandu para sukarelawan, mereka diajak menikmati ribuan pohon seperti buah-buahan, sayuran, dan tanaman obat.

    Bahkan pepohonan yang mulai langka di Jakarta semacam buni, jamblang, kirai, salam, tanjung, kecapi, kepel, rengas, mandalka, drowakan, gandaria, dan bisbul, dapat dijumpai di sana.

    Semua keindahan itu berawal dari keprihatinan Bang Idin terhadap kondisi Kali Pesanggrahan di akhir tahun 1980-an. Pria kelahiran 13 April 1956 itu merasa kehilangan indahnya sungai semasa kecil.

    Menaiki rakit dari pelepah pisang, Bang Idin nekat menyusuri kali selama lima hari enam malam. Ia rekam setiap detail kerusakan yang terjadi. Otaknya berputar mencari jawaban atas hilangnya kicauan burung, ikan-ikan di kali, dan aneka satwa di bantaran kali. Selama itu pula ia mencari tahu mengapa sungai begitu kotor dan bantaran sungai tandus.

    Hasil petualangannya membuat Bang Idin semakin terobsesi mengembalikan “kesehatan” Kali Pesanggrahan. Maka dimulailah usahanya dengan membersihkan sampah dan bangunan yang menghampar di tepian sungai.

    Hari-hari awal perjuangan Bang Idin cukup berat. Tak jarang ia bersitegang dengan para pembuang sampah sembarangan, terutama pemilik rumah gedongan yang berbatasan dengan bantaran kali.

    Tapi Bang Idin punya cara sendiri untuk menggugah kesadaran mereka. Ia kumpulkan sampah-sampah ke dalam plastik lalu digantungnya di pagar rumah-rumah beton itu. “Biar mereka paham sampah itu bau,” ujarnya mengenang peristiwa belasan tahun lalu.

    Taktiknya ternyata cukup jitu. Perlahan warga sekitar mulai peduli dengan lingkungan. Bahkan demi penghijauan, banyak pemilik rumah gedongan yang membongkar bangunannya di bantaran kali.

    Disamping menghijaukan bantaran, Bang Idin dan kelompoknya juga berhasil menghidupkan kembali tujuh mata air yang sempat mati. Air sungai tak lagi kehitaman, sehingga cukup sehat bagi berkembangbiaknya ikan-ikan.

    Langkahnya pun menuai berbagai penghargaan setingkat nasional dan mancanegara. Sebut saja Kalpataru, penghargaan penyelamatan air, piagam dari Abu Dhabi, Jerman, dan Belanda. “Gue nggak bangga. Buat apa penghargaan? Mendingan bantuan pemerintah untuk lingkungan,” ujar bapak dua anak ini.

    Di balik sikap kerasnya, pria tamatan SMP ini ingin membuktikan, hanya orang yang benar-benar memahami alam yang dapat menyelamatkannya. ”Masyarakat yang di kali seperti gue nih seharusnya dirangkul. Duta lingkungan bukan yang cakep-cakep, tapi yang beneran peduli sama lingkungan,” ujarnya.


    sumber : vivanews
    angkat topi buat bang idin,msh ada orang yg mau melestarikan alam...

  9. #8
    Kopral Satu
    Posts
    73
    Power
    M-Store Point
    0
    Online
    N/A
    wahhh saluttt euyy...jarang2 nih ada org yg care kayak gini

  10. #9
    ID Ini Dicurigai Melakukan Penipuan di http://modifika.si/586663
    Location
    Unknown
    Posts
    28,627
    Power
    134 
    M-Store Point
    0
    Online
    5 Days 4 Hrs 39 Mins 17 Secs
    paten nih baru......

  11. #10
    Sersan Mayor
    Posts
    948
    Power
    M-Store Point
    0
    Online
    6 Hrs 29 Mins 49 Secs
    mantep bgt abang idin...mesti mendapat perhatiaan neeh dari pemerintah orng kyk gini

 

 
Page 1 of 4 1234 LastLast
MBtech

Thread Information

Users Browsing this Thread

There are currently 1 users browsing this thread. (0 members and 1 guests)

Similar Threads

  1. Replies: 160
    Last Post: 10th April 2009, 15:19
  2. Tanggul di Situ Gintung Cirendeu Ciputat jebol
    By rizkybas in forum Automotive
    Replies: 41
    Last Post: 5th April 2009, 20:22
  3. Replies: 32
    Last Post: 29th March 2009, 17:06
  4. Replies: 4
    Last Post: 28th March 2009, 20:30
Back to top